#037 : Distrust (?)

    Manusia jangka pendek ngomongin politik, manusia jangka menengah ngomongin IPTEK, manusia jangka panjang ngomongin cinta. Jadi begini, dulu ada seorang aktivis terkenal, dengan suara yang lantang ia menuntut kekuasaan orde baru, ia juga terlibat dalam pelengseran kekuasaan reformasi 98 dan berhasil. Singkat cerita setelah peristiwa itu, ia akhirnya masuk ke dalam dunia parpol, alasannya sih katanya dengan masuk ke parlemen maka akan lebih mudah dalam memperbaiki sistem di negeri ini.

Bagai pungguk merindukan bulan, yang terjadi hingga hari ini malah ia tak mampu untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Bahkan, ia semakin jatuh ke dalam hingar bingar kekuasaan. Nah, orang-orang seperti ini gak cuma satu-dua aja, tetapi ada banyak, mereka juga lupa dengan idealismenya yang dulu. Akibatnya adalah kekuasaan dan jabatan membuat akal pikiran mereka mungkin sedikit “tumpul”, hingga kebijakan-kebijakan yang berpotensi merugikan orang banyak malah gak mendapat penolakan dari diri mereka sendiri.

peyangg

Beda orang beda cerita. Soal reformasi, Mbah Nun juga pernah ikut melakukan gerakan atau perlawanan menentang kekuasaan orde baru yang sudah sangat lama berkuasa itu. Bahkan, Mbah Nun menjadi salah satu tokoh sentral yang kemudian turut mengantarkan Soeharto lengser. Lantas apa yang selanjutnya Mbah Nun lakukan? Nah, di sinilah titik perbedaannya.

Mbah Nun sadar, dan mengetahui batas kemampuan dirinya dengan enggan mengambil kesempatan kendali kekuasaan kala itu. Padahal saat itu kesempatan terbuka lebar, tetapi Mbah Nun gak mau. Mbah Nun juga gak masuk ke dalam parpol manapun, juga gak menjabat di kementerian apapun. Tapi langkahnya adalah dengan menempuh “jalan sunyi” yang di kemudian hari disebut Maiyah.

Sih Mbah memilih untuk tetap berada di luar kekuasaan, ia lebih memilih untuk menjadi penyeimbang, menjadi pengingat-warning bagi mereka yang berkuasa untuk tidak bertindak sewenang-wenang alias menyalahgunakan kekuasannya. Sikap seperti inilah yang membedakan Mbah Nun dengan para tokoh lainnya dan juga sudah sangat langka dijumpai. Lagi-lagi kita harus tau, dan harus sadar akan batas-kemampuan diri kita masing-masing.

peyangg

Awalnya setelah peristiwa reformasi terjadi, secercah harapan muncul: semoga gaya hidup hedonis gak merasuki para petinggi negeri di semua tingkatan, semoga gak korup, semoga gak menjadi maling dan garong. Rasa optimis ini juga sempat muncul sebab demokrasi setelah reformasi menjadi lebih terbuka, khususnya pada sistem pemilunya dan jalannya roda government, baik ditingkat pusat ataupun daerah.

Apalah daya tangan tak sampai, rasa-rasanya situasi hari ini kek melahirkan Soeharto Soeharto kecil? Hari ini kita bisa merasakan bagaimana adanya pelemahan institusi-institusi demokrasi, belom lagi penggunaan aparat, lemahnya oposisi, ditambah adanya oknum yang memanfaatkan UU, dan masih terjadinya pembungkaman. Kalo ini udah terjadi di tengah-tengah kita, fixmungkin kemunduran demokrasi namanya.

Katanya, di negara dem*kr*si kita bebas untuk berbicara tapi uang harus cari sendiri. Di negara ko*un*s makan dicukupi tapi kita gak boleh mengkritik government. Di sini? mengkritik dibungkam-dicuekin tapi uang kudu cari sendiri. Kita harus siap kalo hidup ini gak akan sama dengan apa yang kita inginkan, gak akan sama dengan apa yang kita pikirkan, bahkan hidup ini bisa aja berlaku sebagaimana yang kita benci. Harus siap!

peyangg

Pasca reformasi, iklim demokrasi-politik hari ini malah jadi ke-pedean. Seorang pemimpin misalnya, kalo dia ingin mempimpin harusnya kan diawali dari adanya aspirasi dulu, atau dia yang diinginkan oleh rakyatnya, bukan malah sebaliknya merasa ge-er seolah-olah rakyat menginginkannya untuk menjadi kepala daerah. Padahal iklim demokrasi yang seharusnya lebih kepada menjadikan rakyat sebagai pemilik, bukan sekedar penonton lima tahunan yang selalu kecelik.

Kita juga pernah diingatkan bahwasannya demokrasi hari ini bukan soal menang atau kalah, lebih dari itu adanya keberanian untuk sama-sama hadir bahkan saat kalah sekalipun tetap harus hormat pada proses, dan terus terlibat membangun bangsa, bukan sekedar menyalahkan. Kita ingin demokrasi yang melayani, menemani, menjaga dengan penuh kasih dan tanggung jawab serta tidak ingin demokrasi yang berjarak, serba memerintah dari atas. Sekali lagi,  kita ingin demokrasi yang menyatu, membaur, dan tumbuh bareng-bareng.

peyangg

Hari ini kita juga membutuhkan demokrasi yang bersahaja dalam laku hidup, yang egaliter, yang membimbing tanpa memaksa, yang memimpin tanpa haus kuasa, bahkan demokrasi yang siap menghadapi kenyataan paling keras sekalipun dalam kehidupan rakyatnya. Sebab katanya parameter tertinggi dari kemanusiaan itu adalah siapa yang paling bermanfaat bagi sesama, bukan yang paling berkuasa. Ini juga bagian dari refleksi bersama akan pentingnya makna dari sebuah kepemimpinan yang berlandaskan pelayanan dan pengabdian, bukan dominasi.

Kita juga butuh demokrasi yang tidak berbohong, sebab katanya kebenaran adalah fondasi kepercayaan. Kita butuh demokrasi yang tidak terjerat hawa nafsu duniawi yang bisa aja menjerumuskan kepada penyalahgunaan kekuasaan. Kita butuh pemimpin yang benar-benar memahami apa yang diucapkannya agar kata-kata yang keluar gak menjadi kosong-menyesatkan.

Kita butuh pemimpin yang memimpin bukan karena kekuasaan, tapi karena nilai. Bukan karena jabatan semata, tapi karena kepercayaan. Dan sekali lagi, bukan untuk menguasai, tapi untuk merawat-realitas, perbedaan, dan juga Indonesia. Jangan lupa juga, panggung politik kita hari ini “mungkin” lebih banyak dihuni oleh para pesulap wacana. Siapa yang viral, dia lebih dipilih dari pada yang visioner. Siapa yang pandai memanen simpati, lebih dipercaya dari pada yang mampu memikul beban (Meritokrasi).

Kita udah terlalu lama menunggu, udah terlalu lama memberi mereka waktu, mau berapa lama lagi kita harus bertahan dalam keraguan yang diberi nama harapan ini? Kita udah terlalu sabar, pasca kemerdekaan atau pasca reformasi sebenarnya momentumnya ada tetapi hingga hari ini, entah kenapa jalan kesejahteraan itu masih jauh keberadaannya.... 

Suwun.

 

 

 

#036 : Sang Penguasa atau Sang Pemimpin

Sudah menjadi hal yang biasa, ketika masuk periode akhir setiap pemimpin, atau bahkan saat baru memimpin pun pasti menemui tantangan atau masalah di tengah dinamisnya drama politik-ekonomi-sosial.

Sang Pemimpin

Teringat betul bagaimana kasus Ce*tury hingga proyek Ham*alang yang sampai sekarang masih berdiri kokoh terbengkalai, masih ingat juga bagaimana kasus perusahaan operator seluler Indo*at yang dijual ke negara tetangga, dan masih banyak lagi. Nah, ini semua menandakan bagaimana sikap seorang pemimpin atau penguasa sudah berubah menjadi seorang yang oportunis kekuasaan, disatu sisi mungkin ia lebih mementingkan kepentingan pribadi-kelompoknya dibandingkan kepentingan rakyatnya.

Sejarah mencatat banyak penguasa yang berjuang keras untuk tetap berada di puncak kekuasaan, baik dengan cara yang fair atau dengan cara yang licik dan tersembunyi. Jangan bosan, karena sampai hari ini kita masih menyaksikan bagaimana pola itu terus saja terjadi berulang-ulang. Di awal selalu dininabobokan dengan janji-janji manis, tetapi setelahnya dilupakan begitu saja. Namun dalam setiap kisah tersebut, ada juga pelajaran berharga yang bisa kita ambil hikmahnya.

Masih membekas dalam ingatan kita bagaimana di tengah ketidakpastiaan politik-ekonomi yang diakibatkan pandemi, muncul isu untuk memperpanjang masa jabatan. Agak konyol sih, bagaimana sang penguasa berdalih “ini panggilan darurat loh untuk menyelamatkan negara”. Alasan lainnya adalah “ekonomi negara kita sedang terpuruk, proyek-proyek nasional juga belum selesai”. Ohiya, ia juga berusaha meyakinkan publik bahwa keberadaannya masih terus diperlukan, ya ala-ala superhero lah. Untungnya upaya ini gagal, banyak penolakan dan kecaman dari lapisan masyarakat.

Ia tak menyerah begitu saja, masih ingat dengan langkahnya? bagaimana sang pemimpin menggunakan putra sulungnya untuk memperjuangkan kepentingannya, padahal usianya belum memenuhi persyaratan yang diatur oleh UU. Tapi tenang, ada bantuan kerabat dekat semua jadi beres. Disisi lain, publik pun merespons drama ini dan merasa keputusan tersebut dipengaruhi oleh hubungan pribadi, bukan atas dasar keadilan dan kebenaran. 

Sang Pemimpin

Dalam perjalanannya, sang pemimpin tersebut juga sangat pandai memainkan berbagai macam retorika dan janji-janji kebijakan yang pro-rakyat. Dengan dalih “suara rakyat”, tujuannya jelas untuk meraih dukungan publik yang merasa terpinggirkan oleh elite politik-ekonomi, dan harus diakui itu berhasil. Otomatis ia memperoleh legitimasi-kekuatan politik yang kuat dari rakyat.

Sang pemimpin tersebut juga sukses membuat citra dirinya yang sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia seolah-olah menjadi gambaran hidup dari perlawanan terhadap politik oligarki-dinasti. Ia berusaha datang untuk menjadi simbol bagi rakyat, mewakili aspirasi rakyat untuk memiliki pemimpin yang berasal dari kalangan mereka sendiri dan mampu bersaing dengan para elite yang mapan.

Rakyat pun terpincut (awalnya), di mata mereka, pemimpin seperti ini lah yang dibutuhkan sebab ia sangat berbeda dari para elite politik yang biasanya dikenal. Pemimpin tersebut dianggap sebagai “orang seperti kita” yang mampu meraih posisi kepemimpinan tanpa harus memiliki latar belakang keluarga yang berpengaruh atau kekayaan yang melimpah.

Setiap gerak geriknya selalu menarik hati banyak orang, membuat mereka merasa dihargai dan diwakili oleh sang pemimpin tersebut. Mulai dari blusukan ke pasar tradisional, ke sawah dan tempat-tempat lain yang sering dikunjungi rakyat kecil. Ia juga rajin memberikan bantuan sosial, sehingga masyarakat merasa bahwa kepentingan dan kesejahteraannya sangat diperhatikan, terutama oleh government

Sang Pemimpin

Sang pemimpin tersebut juga dikenal sebagai orang visioner pembangunan, yang berfokus pada pembangunan infrastruktur. Bermodal pengalamannya sebagai pedagang mebel, ia mengklaim: “bahwa kemakmuran tidak akan tercapai tanpa perbaikan ekonomi pasar dan infrastruktur yang memadai”.

Singkat cerita ia membuktikkan ucapannya itu dengan menjalankan berbagai macam PSN, gak peduli modal dananya dari mana, gak peduli itu ngutang dulu atau bagaimana, gak peduli itu bunga hutangnya berapa, yang terpenting adalah proyek ini dapat berjalan, lalu manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kalau sudah begini, otomatis citra dirinya akan semakin kuat sebagai seorang pemimpin yang peduli terhadap kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Dalam karir politiknya, sang pemimpin ini dahulu dikenal dengan sebutan “petugas partai”, namun saat masuk di senja kekuasaannya, ia mulai gak manut. Dan ada hal yang menarik untuk kita cermati atau  bisa saja ini akan menjadi strategi politik di masa yang akan datang, apa itu? Begini, sejarah mencatat hampir semua presiden memiliki parpol yang kuat yang menjadi basis kekuatan politik mereka. Namun, “sang pemimpin ini” gak melakukan pola itu.

Padahal jumlah relawan yang mendukungnya sangatlah besar, tetapi ia menolak untuk mendirikan parpol sendiri. Disatu sisi memang relawan ini sifatnya spontan dan terorganisir secara informal, dengan kegiatan-kegiatan yang didorong oleh kesukaan dan komitmen pribadi terhadap sang pemimpin.

Kita bisa lihat bahwa ini adalah bagian dari strategi, dimana ia memilih untuk berada di luar struktur parpol konvensional, kemudian seolah-olah hal ini memberinya kebebasan untuk bergerak tanpa harus terikat pada kepentingan parpol yang mungkin bertentangan dengan visi-programnya. 

Sang Penguasa

Dalam urusan negosiasi politik bagaimana? Oh, sudah tidak diragukan lagi, sang pemimpin sangat pandai memainkan perannya. Keberhasilan menghimpun dukungan mayoritas mencerminkan kecerdasannya membaca dinamika politik dan memanfaatkan kepentingan-kepentingan parpol untuk keuntungan bersama.

Sang pemimpin juga rela untuk bagi-bagi kue atau insentif berupa jabatan-jabatan komisaris yang diinginkan oleh partai demi menjadikan kompromi sebagai strategi politiknya.

Ia juga merangkul lawan politik terbesarnya dengan memberinya jabatan, dengan demikian ia diklaim sebagai orang yang menghidupkan kembali karir politik lawannya itu yang sudah hampir terlupakan. Ia juga diklaim berhasil membangun reputasi sebagai pemimpin yang mampu mengelola konflik politik dengan bijaksana dan menjaga stabilitas politik negara. Licik dan cerdik sekali memang.

Seperti peribahasa “ada udang di balik batu”. Ya, sang pemimpin melakukan itu semua karena ada maunya, yaitu untuk mempertahankan kekuasaan. Sang pemimpin juga memiliki kontrol penuh terhadap masa-rakyat dengan cara memanfaatkan alat modern-digital seperti bantuan buzzer-influencer.

Di zamannya, kebebasan berbicara, berpendapat, dan kritik pasti akan dilawan dengan peluru UUITE, dan itu berhasil. Otomatis ini membantu sang pemimpin memperkuat kontrolnya terhadap opini publik dan mengurangi potensi oposisi serta kritik yang dapat mengganggu stabilitas government.

Bagi sang penguasa, kebijakan seperti revisi UU-KPK, UU-Cipta Kerja, UU-KUHP jelas sangatlah menguntungkan dirinya sebab bisa mengamankan posisi para elite dan mengontrol masa-rakyat.

Sang pemimpin juga berhasil memompa rasa nasionalisme rakyat lewat berbagai macam hajatan, seperti balapan motor, pertemuan G20 yang mewah, belum lagi event KTT ASEAN, semuanya dirancang untuk meningkatkan citra negeri ini di mata dunia dan memperkuat rasa bangga di kalangan publik. Yaaa berhasil sih kalo hitungan dasarnya untuk meningkatkan reputasi (Indonesia) secara internasional, tetapi disatu sisi banyak kritik yang menyoroti bahwa acara-acara megah itu sesungguhnya hanyalah menyembunyikan masalah-masalah yang lebih mendasar, seperti ketimpangan sosial rakyat, ketidaksetaraan gender, dan isu-isu hak asasi manusia lainnya. 

Sang Pemimpin atau Sang Penguasa

Dari sudut pandang para pemujanya juga lucu, mereka malah cenderung bersikap toleran terhadap tindakan yang salah atau keliru, justru mereka akan menyalahkan orang-orang yang ada di sekitar sang pemimpin jika terjadi kesalahan atau kegagalan. Mungkin mereka juga ngebatin “ah kasian pemimpin ku, orang baik seperti dia kok dikelilingi orang-orang jahat”, lah.

Gak sampai di sini aja, sang pemimpin juga berhasil membangun citra dirinya yang bersih dan tidak terlibat dalam praktik politik yang korup. Ia juga memanfaatkan citra ini untuk membedakan dirinya dengan para politikus profesional yang sering kali terkena masalah. Dengan demikian lagi-lagi ia sedang membangun narasi bahwa dirinya bukanlah politikus, melainkan hanya “orang baik” yang hanya memiliki misi membersihkan poltik dari korupsi dan kejahatan lainnya.

Padahal mah sendirinya juga melakukan nepotisme, sempat melakukan lobi-lobi agar anak dan mantunya bisa dicalonkan wkwk. Tapi herannya kok masih ada sebagian masyarakat yang menganggap ini adalah hal wajar. Mereka bilang “ya wajar aja, udah menjadi praktek umum di level kepala daerah begitu, banyak nepotisme. Yang lain aja boleh masa dia nda boleh”.

Ini seolah menjadi tamparan keras untuk rakyat, dan pada akhirnya rakyat sadar bahwa sang pemimpin sebenarnya orang yang tidak selalu patuh pada aturan, belum lagi soal etika berpolitik yang gak bagus, atau minimal memiliki sikap legowo lah dalam menerima akhir dari kekuasaannya. 

Peyangg.blogspot.com

Di senja kekuasaannya, sang pemimpin ini semakin memprioritaskan kepentingan pribadi dari pada kepentingan rakyat. Akibatnya ada perubahan pergeseran persepsi terhadap sang pemimpin, yang tadinya bersih dan bermoral malah menjadi sosok yang ambivalen (bercabang dua yang saling bertentangan).

Kita perlu akui memang, ia memiliki gaya kepemimpinan yang unik dan berbeda. Ia juga memelihara citra dirinya yang lebih tenang dan sederhana, tetapi tetap mampu mempertahankan pengaruhnya dan mendapat dukungan kuat dari para pendukungnya.

Sebagai penutup sekali lagi, setelah dua periode berkuasa, kita semakin paham bahwa sang penguasa (eh sang pemimpin maksudnya) memulai perjalanan politiknya sebagai seorang yang populis yang mewakili harapan-aspirasi rakyat (awalnya). Tetapi, kini ia berakhir menjadi seorang oportunis kekuasaan, yang lebih mementingkan kepentingan pribadi-kelompoknya dari pada kepentingan rakyatnya. Suwun.

 


#035 : Lima Puluh Plus Satu

Judul di atas bisa ditafsirkan banyak makna. Kalau dalam ilmu matematika, bisa lima puluh ditambah satu (50+1). Kalau dalam voting, lima puluh plus satu bisa dimaknai dialah pemenangnya sebab berhasil mendapatkan perolehan suara lebih dari setengah.

Lima Puluh Plus Satu

Btw selamat ya. Menang kan jagoannya? Pasti kemarin sebelum milih udah pada baca visi misinya kan?  Pasti kemarin milihnya gak ikut-ikutan berdasarkan like or dislike kan? Oh pasti kemarin milihnya berdasarkan kesamaan ide dan gagasan yang dibawanya kan? Oh pasti kemarin milihnya berdasarkan rasionalitas kan, bukan berdasarkan emocional? ya semoga gak ada lagi tuh slogan yang bunyinya “beri ku satu pemuda, maka akan ku guncangkan MK”, salah tuh slogannya, fix gak benar. Padahal kan yang bener bunyinya “beri ku sepuluh pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”, nah ini baru bener. Kan kalo begini jadi siap kita untuk menuju 2045 yang cemas, eh lemas, eh emas maksudnya.

Lima puluh plus satu bisa juga dikaitkan dengan pemimpin dan kepemimpinan. Sebenarnya udah banyak literatur yang membahas hal demikian, tapi gak apa-apa kita bahas lagi lewat lirik lagu Gundhul-gundhul Pacul, tau kan lagu itu? Tau dong.

Diawali bunyi lirik Gundhul Pacul, artinya adalah bahwa yang namanya pemimpin itu adalah sebuah tugas mengemban amanah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya.

Kemudian lirik selanjutnya Segane, artinya nasi, bisa kita ibaratkan sebagai suatu amanat dari rakyat, yang ini sangatlah mahal serta harus dijaga betul-betul. 

Lalu Wakul, jelas artinya bakul, atau bisa kita ibaratkan sebagai tempat atau wadah. Juga sebagai perlambang otoritas, legalitas, dan legitimasi pemerintah yang dipersembahkan oleh rakyat kepada pemimpinnya.

Selanjutnya Nyunggi Wakul, artinya sebagai sebuah perlambang bahwa dalam meletakkan amanat itu harus pada posisi tertinggi, bahkan harus lebih tinggi dari kepala kita. Juga menjadi perlambang bahwa amanat itu harus diposisikan pada derajat yang mulia dibandingkan kepentingan diri sendiri, golongan, ataupun partainya.

Terakhir, ada lirik Wakul nggilmpang segane dadi sak latar, maknanya adalah kalau pemimpin sudah diberikan amanah maka janganlah menyia-nyiakannya. Ibarat seseorang yang membawa bekal nasi tapi bawanya sambil lari ugal-ugalan, yowes sudah pasti jadi berantakan dah tuh, bahkan bisa saja jatuh ke tanah, kalau sudah begini, jadinya kan tidak terdistribusi dengan baik kepada mereka yang membutuhkan. Misal loh ya ini, jangan serius-serius.

Lima Puluh Plus Satu Peyangg

Lantas pertanyaannya adalah sudah sejauh mana pemimpin atau kepemimpinan kita hari ini?

Nah, biasanya untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa menggunakan beberapa indikator, seperti menggunakan konsep MeritokrasiKorporatokrasi. Gampangnya, Meritokrasi adalah dimana sebuah kondisi politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjadi pemimpin berdasarkan kemampuan dan prestasinya, bukan berdasarkan kekayaan atau kelas sosialnya.

Secara definisi, Meritokrasi akan bersandar pada hasil atau prestasi kerja dari seseorang pada posisi jabatan sebelumnya. Memang pada level kepemimpinan tertentu, Meritokrasi ini sudah berjalan dengan baik, tetapi pada level kepemimpinan elit keknya masih sebatas omon-omon doang deh. Gak percaya? Lihat aja bagaimana peran pengusaha begitu dominan dalam dunia politik kita. Mereka bisa leluasa duduk di posisi-posisi strategis pengelolaan negara. Ya bukannya apa-apa sih, cuma khawatir aja adanya berbenturan kepentingan satu sama lain.

Belum lagi adanya peran salah satu petinggi partai (misal loh ini) yang memiliki perusahaan media masa, nah yang terjadi justru media masa miliknya itu menjadi media endors bagi penguasa. Begitu juga saat seorang pengusaha yang menjadi politisi, kemudian terafiliasi dengan organisasi masyarakat, pun pada akhirnya akan dimanfaatkan untuk kepentingan politiknya. Seolah benturan demi benturan antara kepentingan bisnis dan politik sudah biasa dan dianggap sah oleh mereka. Maka yang kita alami hari ini bukanlah Meritokrasi, melainkan Korporatokrasi.

Peyangg

Bagaimana, udah bisa menjawab pertanyaan soal pemimpin atau kepemimpinan kita hari ini? kalau belum kita kasih indikator lainnya, bagaimana kalau kita menggunakan konsep Mediokrasi – Excellence untuk mengukurnya.

Secara definisi, Mediokrasi datang dari dua istilah yang digabungkan dan menjadi istilah baru, terdiri dari kata mediocrity yang artinya ‘ala kadarnya’, dan kratein yang artinya ‘kepemerintahan’. Mediokrasi juga bersandar kepada konsep politik kekuasaan, baik formal maupun informal, dimana standar yang diterapkannya yaaa ‘ala kadarnya’ gitu dan itu normal menurut mereka. Konsep Mediokrasi ini juga sudah pasti menggantikan yang namanya konsep Excellence, ingat loh ya.

Nah, jeleknya Mediokrasi adalah segala sesuatu yang berpotensi melebihi standar ‘ala kadarnya’, itu harus tunduk dan jangan sampai menjadi Excellence. Sebab dalam Mediokrasi, orang-orang yang berkompeten juga harus menepi atau ditepikan. Orang yang memiliki konsep Mediokrasi ini cenderung alergi terhadap segala sesuatu yang dianggap ‘terlalu baik’, bahkan mereka memandang segala sesuatu yang unggul sebagai suatu ‘keburukan’.

Putune Eyangg

Dan lucunya lagi kita diperlihatkan oleh para elit yang demikian, malahan mereka justru menghendaki orang-orang yang tidak kompeten untuk berada disekitarnya, supaya apa, iyap betul, supaya posisi dirinya sebagai elit gak tergantikan dong.

Andai saja para elit kita menggunakan konsep Excellence, beh mantab banget yakan, dimana nantinya sistem tata kuasa akan menggunakan kriteria seleksi berbasis keunggulan atau Excellence, kita jadi makin optimis 2045 emas, bukan cemas apalagi lemas.

Tapi nyatanya, fenomena yang terjadi hari ini justru kita dipertontonkan oleh drama-drama yang lucu sih, sekarang bilangnya A eh besok memutuskan yang B. Memang begitu kali ya para elit kita, sangat mungkin berbalik arah setiap detiknya, atau bertahan dengan ke-idealisannya memang berat, penuh dengan godaan. Dan pada ujungnya kita yang mayoritas adalah termasuk kelas menengah ke bawah sangat mungkin akan terdampak dengan apa-apa yang akan mereka putuskan. Seolah-olah para elit seperti acuh dengan realita yang dirasakan oleh masyarakat. Ketika aturan dibuat, seringnya sih pembuat aturan atau kebijakan gak merasakan sendiri dampak dari aturan yang ditetapkannya.

Mereka yang semestinya membawa aspirasi rakyat justru asik dengan kepentingan mereka sendiri. Mereka gak peduli dengan tanggung jawab yang akan atau sedang mereka emban. Belum lagi beban APBN yang semakin membengkak, plus hutang negara dan pemerintah yang gak jelas peruntukannya, belum lagi daya beli masyarakat yang semakin menurun seolah-olah tidak mereka pedulikan.

Sebaliknya, yang nampak justru mereka sibuk dengan kasus remeh-temeh urusan keluarga dan kepentingan serta kesenangan pribadi pada kemewahan ala kaum borjuis norak. Sedangkan tanggung jawab yang mereka emban malah dijalani dengan sekenanya aja, gak serius. Padahal belum lama ini mereka mengemis-ngemis untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya. Kemana tarekat demokrasi yang mereka iklankan selama ini yang katanya sebagai satu-satunya jalan terbaik menuju keadilan sosial, preet. Kenyataannya masyarakat kita saat ini justru bukan dibawa dalam suasana demokrasi yang baik, tapi Mediokrasi ala Medioker.

Ya meskipun begitu, kita akui juga sih tetap ada loh kebijakan yang berpihak kepada rakyat, tetapi harus diakui bahwa presentasenya masih terlalu kecil jika dibandingkan keberpihakan penguasa terhadap oligarki (yang semakin menggerus sumber daya alam kita ini).

50+1 Peyangg

 Kalau sudah begini timbul pertanyaan lagi, apakah kita masih akan percaya atas kepemimpinan hari ini? Apakah kita masih bisa menggantungkan harapan dan cita-cita besar kesejahteraan yang selama ini ditunggu-tunggu? Apakah benar kita ini adalah negara yang demokratis?

Sebab begitu seringnya kita ditipu daya oleh para penguasa, rakyat juga seperti menikmati jebakan demi jebakan yang dibuat oleh penguasa, satu persatu janji yang pernah terucap, justru muncul dalam bentuk praktik pengkhianatan moral atas sumpah jabatan yang pernah diucapnya.

Lagi dan lagi rakyat kelas menengah ke bawah kecelik berkali-kali, tertipu berkali-kali, diperdaya berkali-kali. Belum lagi soal kepentingan elit juga menjadi satu hal yang selau diutamakan dibandingkan kepentingan rakyat, yang pada akhirnya rakyat memang benar-benar hanya menjadi pelengkap penderita.

Kehadiran rakyat hanya benar-benar dibutuhkan oleh penguasa pada saat hari pemungutan suara aja. Selebihnya, rakyat hanya menjadi boneka dalam serangkaian seremonial penguasa agar dianggap seolah memikirkan rakyatnya. Gak heran sih jika kemudian muncul stigma bahwa yang namanya kebodohan dan ketidakberdayaan rakyat, itu memang dirawat dan dipiara oleh penguasa. Sekali lagi, dipiara dan dirawat loh bukannya dihilangkan atau diberantas. 

Mau sampai kapan seperti ini? kita sudah lelah dan capek menyaksikan oknum politisi yang selalu melakukan money politik yang mereka anggap ini hal biasa aja. Disatu sisi, kita juga harus sadar, rakyat pun harus melek bahwa yang namanya money politik itu hanya memuaskan sesaat aja. Dapat uang secara cepat hanya bermodalkan berangkat ke bilik suara. Pun akhirnya nanti konsekuensi dari money politik itu adalah uang rakyat bisa aja jadi target korupsi.

Jangan bermimpi deh adanya perubahan, selama kita sebagai rakyat gak berani menghukum oknum seperti itu. Oleh karenanya sesekali kita harus menghukum atau melawannya. Dengan apa? Tentu dengan tidak memilihnya saat berada di bilik suara, sebab dengan cara itulah satu-satunya celah mosi tidak percaya rakyat kepada politisi.

Peyangg.blogspot.com

Terakhir, dan ini juga sebagai harapan semoga ke depannya pemimpin atau kepemimpinan kita bisa diisi oleh orang-orang yang memiliki jiwa Teknokrat. Secara definisi, Teknokrat atau Teknokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan yang diisi oleh orang-orang yang memang pakar secara teknis dan pengetahuan pada bidangnya. Sudah pasti Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian dan kemampuan dalam bidangnya, sehingga saat mereka diberi kesempatan atau wewenang untuk mengurusinya, maka segala kebijakan yang diambil berdasarkan latar belakang pengetahuan yang dimilikinya.

Dalam sebuah perusahaan misalnya, kalau struktur organisasinya disusun berdasarkan kapasitas dan kapabilitasnya, jika orang-orang yang tepat ditempatkan pada jabatan yang sesuai dengan kapasitasnya, dijamin deh perusahaan tersebut akan berjalan pada track yang baik. Pun demikian ekosistem perkembangan perusahaan juga akan dibawa pada masa depan yang cerah sebab orang-orang yang tepat memegang tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan perannya masing-masing.

Ya semoga gak terjadi lagi tuh kejadian kek kemarin, soal urusan pertanahan malah diurusi oleh seorang jebolan militer, ada lagi elit yang sebelumnya mengurusi perhutanan eh justru kini mengurusi perdagangan (aduh), dan masih banyak lagi. Nah ini kan lucu kek gak pas aja gitu. Jangankan Teknokrasi, Meritrokasi aja masih jauuuuh.

Sekali lagi, kita membutuhkan pemimpin yang Teknokrat, bukan pemimpin yang hanya karena popularitas semata. Sebab kita memiliki harapan besar kepada pemimpin tersebut untuk mampu menempatkan para teknokrat diposisi atau jabatan yang sesuai dengan kapabilitasnya. Karena kita berharap Indonesia ini benar-benar diurusi oleh mereka yang memang ahli dalam bidangnya. Sehingga tercapainya sila kelima Pancasila itu tidak menjadi omon-omon doang, bahwa yang namanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia benar-benar terwujud. Aamiin . . . . .

 

 

Suwun!





#034 : Delapan Golongan Orang Bertaqwa?

Oleh-oleh satu Syawal kemarin yang masih membekas hingga detik ini dan akan selalu diingat. Katanya, ada delapan golongan orang yang bertaqwa:

Tingkatan paling bawah ada orang-orang kafir. Mereka itu juga bisa dikatakan sebagai orang yang taqwa loh (percaya terhadap kepercayaan ya) 

Naik satu level di atasnya, ada golongan orang-orang murtad. Point pentingnya adalah kalo murtadnya sekali kemudian ia kembali login, maka Allah akan maafkan. Tapi kalo berkali-kali keluar masuk, yasudah, Allah tutup pintu tobatnya.

Naik satu level di atasnya lagi, ada golongan orang-orang muslim syirik. Dengan kata lain ia beragama, tapi percaya juga sama hal-hal yang sifatnya menjerumus kepada perbuatan syirik, kek percaya inilah itulah.

Level di atasnya lagi, ada golongan orang-orang muslim munafik. Alias bermuka dua. Nah ini bahaya juga nih.

Di atasnya lagi, ada golongan orang-orang muslim tapi fasik. Ia beragama tetapi enggan menjalankan amalan-amalannya. Istilahnya “KTP doang ada tulisan beragamanya tapi kelakuannya engga banget bahkan jauh dari ajaran agama”. Misal loh ya.

Nah, masuk posisi tiga besar, ada golongan orang-orang Muslim. Kemudian dua besar, ada golongan orang-orang Mukmin. Dan posisi paling atas, ada golongan orang-orang Muttaqin.

peyangg.blogspot.com


x

Pertanyaannya, gimana caranya bedain antara golongan orang-orang Muslim dengan Mukmin, dan Muttaqin? Begini analoginya:

Golongan Muslim ketika denger adzan, responnya: ah baru adzan, ah nanti-nanti aja sembahyang nya, ah baru jam satu dan macem-macem alesan lainnya, tapi ia tetep melaksanakannya.

Golongan Mukmin ketika denger adzan, responnya: ia langsung bergegas wudhu, langsung sembahyang diawal waktu.

Golongan Muttaqin, ketika setengah jam mendekati waktu sembahyang, ia sudah wudhu, ia sudah rapih, bahkan sebelum adzan berkumandang ia sudah melaksanakan sholat sunah terlebih dahulu, melaksanakan tadarus, melaksanakan zikir serta bersholawat.


Pertanyaannya. Dimana posisi kita? Suwun....






 

x

#033 : Manusia Modern ?

Awalnya bingung mau nulis apa sebab udah lama juga gak nulis lagi. Terakhir kali nulis itu ada diedisi #032, akhir tahun lalu. Udah cukup lama dari target yang harusnya satu bulan sekali diagendakan, tapi akhirnya susah untuk diwujudkan, ya gak apa-apa lah yang penting masih berusaha.

Diawal-awal sempat bingung lagi, kira-kira mau ngangkat tema apa sebab tulisan sebelumnya momennya bagus, yaitu soal drama jelang hajatan besar negeri ini. Nah, kalo sekarang momennya tuh sebetulnya ada juga sih, pasca pemilihan umum, tapi keknya udah keburu males bahas gitu-gituan lagi, tapi yaaa nanti nyerempet tipis-tipis ke situ gak apa-apa.

peyangg.blogspot.cpm

Gimana kalo kita mulai dengan pertanyaan aja, begini: Apa sih manusia modern itu? Apakah dia yang meletakkan etika di atas segalanya? Ah engga engga, gak mungkin, kenyataannya sekarang banyak masyarakat yang sebel ngeliat adanya perilaku menyimpang yang udah jelas-jelas dan nyata itu salah, eeeeeeh tapi malah bisa bebas alias lolos gitu aja karena katanya prosedural formal hukum yang gak memadai. Atau karena kemampuan peradilan yang gak mampu menyentuh orang-orang yang memiliki power? Tapi kalo dipikir-pikir, ini mirip ya sama tingkah laku kepemimpinan hari ini, yang dimana udah banyak kegilaan yang dilakukannya hingga kita sebagai rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala tak berkesudahan.

Padahal kita udah tau bahwasannya sejak dari dulu Tuhan udah mengutus salah satu Nabi atau Rasul pilihan-Nya untuk memperbaiki moral atau akhlak masyarakat yang kala itu dinilai udah gak sejalan dengan hakikat manusia itu sendiri. Kenapa demikian, sebab para pemimpinnya dan masyarakatnya melakukan yang namanya penyimpangan. Nah, kita disuruh belajar dari situ.

Pertanyaannya masih sama. Apa sih manusia modern itu? Apakah dia yang memanfaatkan IPTEK hanya untuk meningkatkan jumlah produksi tanpa batas, juga mengeksploitasi bumi dan memperbudak manusia? Apakah dia yang selalu manut dengan setiap perintah yang diberikan oleh atasannya? Apakah dia yang memanfaatkan IPTEK hanya untuk memenuhi hasrat keserakahannya? Apakah dia yang banyak menguasai berbagai macam bidang sains? Ditambah lagi di era sekarang yang banjir akan informasi dimana-mana, dan seolah-olah manusia menjadi mahluk yang paling bener dibalik layar gawai dan papan ketiknya itu.

Apa itu manusia modern? Apakah dia yang disebut sebagai generasi sandwich? Generasi yang harus menanggung hidup orang tuanya, anaknya, dan dirinya sendiri. Selain itu, dia juga yang harus bertanggung jawab pula dengan urusan orang tuanya, orang yang dituakannya, dan juga dirinya sendiri?

Manusia modern itu apa sih? Apakah dia yang memiliki rasa cinta seperti cintanya Layla-Majnun? Dalam kisahnya, laki-laki bernama Majnun itu sedang dimabuk asmara oleh Layla, seorang perempuan yang dicintainya, namun cinta mereka terhalang oleh restu orang tua, lantas Majnun menjadi stres dan gila bahkan kehidupannya udah kalang kabut akibat cinta yang berlebihannya itu. Bahaya sih emang.

Tapi dari kisah ini kita bisa belajar, yaitu sikap kesetiaan yang ikhlas, juga tentang ketabahan dan keteguhan hati, lalu bagaimana belajar tentang menyikapi sebuah takdir atau ketentuan Tuhan, dan memaknai kehidupan yang mendalam. Yaaa semoga kita bisa terhindar dari pemahaman yang salah tentang cinta. Apalagi cinta kekuasaan.

Opo wong modern iku? Apakah dia yang bisa mengenyam pendidikan di kota? Apakah dia yang bersekolah di gedung yang bagus serta tinggi, seragam yang keren, fasilitas yang okeh, serta bayaran SPP jutaan tiap bulannya yang kemudian berasumsi menganggap mereka yang berpendidikan di desa sangatlah terbelakang darinya?

Eh tapi, kenyataannya zaman udah berubah, makin kesini pendidikan udah saling terbuka deng. Kini yang dibutuhin bukan cuma kecerdasan sempit alias satu dimensi aja, melainkan juga serangkaian kemampuan kompetensi yang holistik.

Terakhir, Apa sih manusia modern itu? Bentar, masih inget gak sama kisah Rasul atau Nabi Muhammad SAW., yang kala itu melakukan hijrah ke suatu daerah yang dimana padahal disitu masih ada salah satu keluarga dekat dari Rasulullah SAW., singkat cerita setelah Rasul berhasil menemuinya, lalu memberikan nasihat-nasihat terbaiknya eh tapi malah pada akhirnya respon masyarakat disitu amatlah buruk. Mereka marah, mencaci maki, lalu mengusirnya, bahkan Rasulullah SAW. mendapat ancaman akan dibunuh. Lebih parahnya lagi masyarakat (Thaif) melempari Rasul dengan menggunakan batu lalu mengenai salah satu bagian tubuhnya dan terluka. Sungguh perilaku yang sangat menyimpang.

Pada posisi terjepit ini, Malaikat Jibril mencoba melamar, merayu, menawarkan sekaligus meminta untuk memohon supaya Rasulullah SAW. meminta kepada Allah untuk menghancurkan masyarakat Thaif dengan cara meledakkan beberapa bukit, sehingga bebatuan di bukit itu dapat menjatuhi masyarakat Thaif. Tapi justru Rasulullah SAW. lebih memilih bergeming, karena emang bukan itu respon yang beliau pengen. Malahan Rasul justru memilih untuk mendoakan masyarakat Tahif supaya dikemudian hari ada diantara keturunan Thaif yang beriman, dan doa itu benar-benar terkabulkan.

Dari peristiwa Thaif ini, kita bisa belajar gimana sebegitu hebatnya logika atau pola pikir Rasul dalam memutuskan apa-apa yang seharusnya, bahkan sekaliber Malaikat Jibril aja engga mampu menjangkau logika dari pada Rasul tersebut. Atau mungkin juga Rasulullah SAW. sendiri mampu menjangkau logika Allah SWT. (?) Apa seharusnya begini ya manusia modern itu??? 


Suwun….